Dibalik Secangkir Kopi
sebuah sejarah
Bismillah wassalatu wassalamu 'ala Rasulillah,
Kopi, siapa diantara kalian yang belum pernah meminumnya? Kopi seolah telah menjadi minuman wajib bagi sebagian orang. Selain itu, kedainya pun hampir dapat kita temui di setiap sudut di Indonesia. Mulai dari yang kelas pasar, hingga yang super mewah setaraf internasional. Namun, tahukah kamu, bagaimana ceritanya kopi bisa sampai di Indonesia? Simak sampai selesai yo!!
ASAL KATA KOPI
Ternyata, asal kata kopi berasal dari bahasa Arab. Yups, kata kopi berasal dari kata qahwah yang berarti kekuatan. Kemudian diserap ke dalam bahasa turki menjadi kahveh. Yang kemudian diserap ke dalam bahasa belanda menjadi koffie. Hingga akhirnya diserap ke bahasa Indonesia menjadi kopi.
PENEMUAN KOPI
Siapa sangka, minuman yang begitu melegenda di hampir penjuru dunia ini berasal dari benua hitam! Dan yang lebih menakjubkan lagi, ternyata minuman yang terkenal karena pahitnya ini, ditemukan secara tidak sengaja!
Yups, biji kopi pertama kali ditemukan di Etiopia sekitar tahun 800-850 Masehi. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, minuman yang kaya cita rasa ini ditemukan oleh seorang pengembala kambing secara tidak sengaja. Pengembala tersebut bernama Khalid -seorang abbyssinia-. Ketika itu, ia merasa heran dengan gembalaan-gembalaannya. Gembalaan Khalid sering terjaga sekalipun sang surya telah berada di peraduannya, setelah memakan sejenis buah beri ketika digembalakan.
Karena penasaran, Khalid kemudian mencoba memasak dan memakannya. Hal yang Khalid lakukan kemudian ditiru oleh banyak orang dan berkembang, hingga menyebar ke berbagai negara di Afrika. Namun ketika itu, cara mengkonsumsinya masih sangatlah sederhana. Barulah beberapa ratus tahun kemudian, biji kopi dibawa ke daerah Arab melewati laut merah dengan metode penyajian yang lebih maju.
PENYEBARANNYA DI SELURUH DUNIA
Bangsa Arab menjadi pelopor bagi penyebaran kopi di seluruh dunia. Mereka mengendalikan perdagangan biji kopi lewat Mocha, sebuah kota pelabuhan yang terletak di Yaman. Saat itu Mocha menjadi satu-satunya gerbang lalu-lintas perdagangan biji kopi. Demikian strategisnya pelabuhan tersebut dalam perdagangan kopi, sampai-sampai orang Eropa menyebut kopi dengan nama mocha. Dan mereka mulai menyebarkannya ke Afrika Utara, Mediterania, dan India.
Namun, ketika itu belum ada budidaya kopi kecuali di daerah Afrika dan Arab. Karena mereka hanya mengekspor kopi siap konsumsi saja. Akhirnya, ada seorang India bernama Baba Budan berhasil membawa biji kopi yang masih bisa ditanam keluar jazirah Arab pada tahun 1600-an. Dan kemudian menanamnya di berbagai daerah lain.
Eropa sendiri baru mulai mengembangkannya sekitar abad ke-17. Akan tetapi, karena iklim Eropa yang tidak mendukung, membuat kopi susah untuk dapat hidup di sana. Karena merasa harus menguasai pasar yang ada, mereka akhirnya memutar halauan dengan menjadikan daerah jajahannya sebagai basis pengembangan kopi. Dan salah satu dari sekian banyak tempat tersebut adalah Jawa yang ketika itu merupakan daerah jajahan belanda. Konon, kopi dari Jawa pernah mendominasi pasar dunia hingga secangkir kopi banyak yang menyebutnya “cup of java”.
KEDATANGAN KOPI DI INDONESIA
Sejarah kopi di Indonesia sendiri dimulai pada tahun 1696 ketika Belanda membawa kopi dari Malabar, India, ke Jawa. Mereka membudidayakan tanaman kopi tersebut di Kedawung, sebuah perkebunan yang terletak dekat Batavia. Namun upaya ini gagal karena tanaman tersebut rusak oleh gempa bumi dan banjir.
Upaya kedua dilakukan pada tahun 1699 dengan mendatangkan stek pohon kopi dari Malabar. Pada tahun 1706 sampel kopi yang dihasilkan dari tanaman di Jawa dikirim ke negeri Belanda untuk diteliti di Kebun Raya Amsterdam. Dan ternyata, kopi yang dihasilkan di jawa bermutu sangat tinggi, oleh karena itu tanaman kopi ini dijadikan bibit bagi seluruh perkebunan yang dikembangkan di Indonesia. Belanda pun memperluas areal budidaya kopi ke Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.
Pada tahun 1878 terjadi tragedi yang memilukan. Hampir seluruh perkebunan kopi yang ada di Indonesia terutama di dataran rendah rusak terserang penyakit karat daun. Kala itu semua tanaman kopi yang ada di Indonesia merupakan jenis Arabika (Coffea arabica). Untuk menanggulanginya, Belanda mendatangkan spesies kopi liberika (Coffea liberica) yang dianggap lebih tahan terhadap penyakit karat daun.
Sampai beberapa tahun lamanya, kopi liberika menggantikan kopi arabika di perkebunan dataran rendah. Di pasar Eropa kopi liberika saat itu dihargai sama dengan arabika. Namun rupanya tanaman kopi liberika juga mengalami hal yang sama, rusak terserang karat daun. Kemudian pada tahun 1907 Belanda mendatangkan spesies lain yakni kopi robusta (Coffea canephora). dan ternyata, usaha kali ini berhasil, hingga saat ini perkebunan-perkebunan kopi robusta mendominasi hampir semua perkebunan-perkebunan yang ada.
HARUSNYA KITA MALU.
Kini, kita hampir dapat menemukan kopi di setiap tempat. Dan meminum kopi seolah telah menjadi rutinitas bagi sebagian orang. Namun ada hal yang perlu di garis bawahi di balik rutinitas ini. Hendaknya kita jangan sampai membuang waktu secara percuma hanya untuk menikmati secangkir kopi. Karena orang terdahulu meminum kopi untuk membantu mereka terjaga ketika beribadah di malam hari. Bukan hanya untuk menyia-nyiakan waktu yang mereka miliki. (HAL)
artikel ini pernah terbit di majalah Ahlan edisi 13

Komentar
Posting Komentar